Rupiah kembali berada dalam tekanan setelah pasar global belum benar-benar tenang. Di tengah kekuatan dolar AS, harga minyak yang masih tinggi, dan suasana hati-hati investor, mata uang Garuda menutup perdagangan dengan pelemahan tipis di level Rp 17.667 per dolar AS.
Pergerakan rupiah kali ini memperlihatkan betapa cepat sentimen luar negeri memengaruhi pasar domestik. Meski sempat dibuka menguat tipis 2 poin atau 0,01 persen ke Rp 17.651 per dolar AS, rupiah tidak mampu bertahan hingga akhir sesi.
Tekanan terbesar masih datang dari kombinasi isu geopolitik dan kebijakan bank sentral AS. Pelaku pasar belum lepas dari kekhawatiran atas konflik di Timur Tengah, sementara sinyal hawkish dari The Federal Reserve ikut menjaga dolar AS tetap kuat.
Direktur PT Traze Andalan Futures Ibrahim Assuaibi menilai pelemahan rupiah dipengaruhi faktor eksternal dan domestik sekaligus. Dari luar negeri, pasar masih mencermati dinamika konflik di Timur Tengah yang membuat investor cenderung berhati-hati.
Pasar cermati konflik Timur Tengah
Amerika Serikat memang memberi sinyal ingin mengakhiri konflik dengan Iran di kawasan tersebut. Presiden AS Donald Trump sebelumnya menyebut perang di Iran telah memasuki tahap akhir setelah proses pembicaraan dinilai berjalan positif.
Namun, sentimen itu belum cukup meredakan kekhawatiran pasar. Trump juga memperingatkan bahwa kegagalan mencapai kesepakatan dapat memicu aksi militer AS yang lebih besar terhadap Iran.
Situasi di Selat Hormuz turut menambah ketidakpastian. Kondisi jalur itu yang sebagian besar masih tertutup membuat harga minyak dunia tetap tinggi, meski sempat terkoreksi tajam pada awal pekan.
The Fed masih memberi dorongan ke dolar
Dari arah kebijakan moneter, risalah rapat Federal Open Market Committee atau FOMC kembali menjadi perhatian. Mayoritas pejabat The Federal Reserve disebut masih mempertimbangkan kenaikan suku bunga jika inflasi bertahan di atas target 2 persen.
Sinyal seperti itu biasanya memperkuat dolar AS dan menekan mata uang negara berkembang. Rupiah pun ikut merasakan tekanan karena investor cenderung memilih aset yang dianggap lebih aman saat sikap hati-hati meningkat.
Kondisi tersebut membuat pasar tetap rentan bergejolak. Selama dolar AS bertahan kuat dan harga minyak belum turun signifikan, ruang penguatan rupiah menjadi lebih sempit.
Faktor domestik ikut menahan laju rupiah
Tekanan di pasar dalam negeri juga belum hilang. Sikap risk off investor meningkat setelah Presiden Prabowo Subianto menerapkan kebijakan baru terhadap ekspor komoditas sumber daya alam strategis.
Kebijakan itu mencakup minyak sawit, batu bara, dan ferroalloy yang diwajibkan dikirim melalui satu eksportir milik negara. Respons pasar terhadap kebijakan ini ikut membuat investor lebih waspada terhadap aset Indonesia.
Selama perdagangan berlangsung, rupiah bahkan sempat bergerak lebih lemah hingga 30 poin. Tekanan itu baru sedikit terpangkas di sesi sore, tetapi belum cukup untuk mengubah hasil akhir perdagangan.
Pelemahan tipis di penutupan menunjukkan pasar masih mencari arah di tengah tumpang tindihnya sentimen global dan domestik. Selama kondisi eksternal belum membaik, rupiah masih berpotensi bergerak fluktuatif pada perdagangan berikutnya.
Source: www.beritasatu.com




