Jepang Dan Singapura Menyerap Arus Modal Baru, Properti Komersial Asia Pasifik Naik 31%

Jepang dan Singapura kembali jadi pusat perhatian investor properti komersial di Asia Pasifik. Dua pasar itu menyerap aliran modal besar ketika kawasan mencatat kuartal pertama terkuat sepanjang sejarah, dengan nilai investasi naik 31% secara tahunan menjadi US$47,0 miliar menurut JLL.

Lonjakan itu tidak datang merata ke semua negara. Dana justru terkonsentrasi ke pasar yang dianggap matang, likuid, dan punya potensi pendapatan stabil, sementara investor terus mencari aset besar yang masih bisa diolah ulang untuk menambah nilai.

Singapura melonjak tajam

Di antara semua pasar, Singapura mencatat kenaikan paling mencolok. Investasinya melesat 433% menjadi US$11,5 miliar, terdorong transfer aset milik Hongkong Land dan Qatar Investment Authority ke dana investasi SCPREF senilai US$6,4 miliar.

Aktivitas di sana juga ditopang kondisi pembiayaan yang masih relatif kondusif. Situasi itu ikut menjaga tempo transaksi, termasuk pada akuisisi portofolio ritel oleh Altallo AM dan pembelian aset industri oleh UI Boustead REIT.

Jepang tetap memimpin kawasan

Meski turun 4% dibandingkan periode yang sama tahun lalu, Jepang masih menjadi negara dengan total investasi terbesar di Asia Pasifik. Nilainya mencapai US$13,2 miliar pada kuartal pertama 2026.

Sektor perkantoran tetap menjadi motor utama di pasar Jepang. Banyak investor memburu gedung kantor pusat lama berukuran besar di kawasan CBD Tokyo untuk direvitalisasi dan diberi nilai tambah baru.

Salah satu transaksi terbesar datang dari akuisisi kantor pusat Dentsu Group oleh Brookfield dari Hulic senilai US$1,9 miliar. Pola ini menunjukkan bahwa aset besar dengan potensi pengolahan ulang masih sangat diminati.

Modal lintas negara pecahkan rekor

Arus investasi lintas negara di Asia Pasifik juga mencapai level baru. Nilainya menyentuh US$16,3 miliar, naik 87% dibandingkan kuartal pertama tahun lalu.

JLL menilai pergerakan modal itu banyak dipengaruhi preferensi investor pada pasar yang likuid dan stabil. Stuart Crow, CEO Asia Pacific Capital Markets JLL, menyebut kawasan ini masih rentan terhadap gejolak harga energi akibat dinamika geopolitik terbaru.

Ia juga menyoroti Jepang dan Korea Selatan sebagai negara dengan risiko tertinggi karena ketergantungan besar pada impor minyak dari Timur Tengah. Dalam jangka pendek, ia memperkirakan modal akan lebih banyak mengalir ke pasar matang seperti Jepang dan Singapura.

Kenaikan biaya konstruksi akibat harga energi juga berpotensi menahan pasokan baru. Kondisi itu ikut membuat aset yang sudah ada semakin menarik bagi investor institusional.

Perkantoran, industri, dan data center paling diburu

Dari sisi sektor, perkantoran masih menjadi penyerap investasi terbesar di Asia Pasifik. Nilai transaksinya mencapai US$24,0 miliar, naik 46% secara tahunan, dan menyumbang lebih dari separuh total investasi regional.

Sektor industri dan logistik juga mencatat hasil kuat. Transaksinya naik 53% menjadi US$8,5 miliar, dengan minat yang tetap terpusat pada aset logistik berkualitas tinggi.

Data center ikut masuk radar utama. Investasinya mencapai US$4,1 miliar, didorong kebutuhan yang lebih besar terhadap kecerdasan buatan, aturan kedaulatan data, dan dorongan pemerintah untuk menarik modal ke Asia Pasifik.

JLL memperkirakan permintaan kapasitas data center yang didorong kecerdasan buatan dan layanan awan akan tumbuh rata-rata 19% per tahun selama lima tahun ke depan. Keterbatasan pasokan dan daya listrik di pasar utama juga membuat pengembang melirik Johor Bahru, Batam, dan Bangkok.

Hotel ikut terdorong pariwisata

Sektor perhotelan juga ikut menguat seiring membaiknya arus wisata. Jumlah kedatangan wisatawan internasional di Asia Pasifik tumbuh 6,3% pada 2025, ditopang pemulihan di Asia Timur Laut dan Oseania.

Kinerja hotel pun membaik. Revenue per available room atau RevPAR dalam dolar AS naik 11% pada dua bulan pertama 2026, dengan dorongan utama dari tarif kamar harian rata-rata yang terus menguat.

Volume transaksi hotel pada kuartal pertama 2026 juga naik 36% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Jepang, Tiongkok, dan Korea Selatan menyumbang 73% dari total volume transaksi hotel di kawasan.

Pamela Ambler, Head of Investor Intelligence Asia Pacific JLL, mengatakan semakin banyak investor institusional memakai kerangka “HALO” atau Heavy Assets with Low Obsolescence. Kerangka itu menitikberatkan pada aset fisik dengan arus pendapatan stabil dan lebih tahan terhadap disrupsi teknologi.

Indonesia tetap masuk radar

Di tengah derasnya modal yang mengarah ke pasar besar Asia Pasifik, Indonesia masih tetap menarik perhatian. Farazia Basarah, Country Head JLL Indonesia, menilai daya tarik Indonesia ditopang fundamental pasar yang solid dan faktor struktural jangka panjang.

Ia menyoroti ekonomi digital yang besar dan terus berkembang, populasi usia produktif yang besar, serta adopsi kecerdasan buatan yang semakin luas. Minat investor tetap tinggi pada sektor logistik, manufaktur, data center, dan perhotelan.

JLL menilai pasar saat ini masih membuka peluang bagi investor jangka panjang. Pasokan baru yang menurun, aset dengan harga di bawah biaya penggantian, dan fokus pada pendapatan berkelanjutan membuat properti komersial Asia Pasifik tetap menjadi tujuan utama modal institusional.

Source: mediaindonesia.com

Baca Juga

Back to top button