KNKT Masih Mencari Titik Kritis Tabrakan KRL Bekasi Timur, Hasil Awal 2-3 Bulan Lagi

Penyelidikan tabrakan KRL di Stasiun Bekasi Timur belum bisa ditutup dalam waktu singkat. KNKT masih menelusuri rangkaian kejadian yang berujung pada insiden fatal itu, termasuk urutan waktu, posisi kereta, dan kondisi jalur.

Ketua KNKT Soerjanto Tjahjono menyebut kesimpulan awal baru bisa dirampungkan dalam sekitar 2 sampai 3 bulan jika semua proses berjalan lancar. Pada tahap ini, tim masih mengumpulkan data, memeriksa lapangan, dan menganalisis aspek teknis sebelum memutuskan penyebab akhir kecelakaan.

Satu hal yang kini menjadi perhatian utama adalah rekonstruksi waktu. Bagi penyidik, detail menit demi menit penting karena insiden itu melibatkan beberapa peristiwa yang saling berhubungan sebelum tabrakan KRL-Argo Bromo Anggrek terjadi.

Sebelum benturan besar itu, ada peristiwa awal yang memicu kerumunan di sekitar rel. Sebuah taksi mogok di tengah jalur di kawasan Stasiun Bekasi Timur, lalu tertemper oleh KA 5181B relasi Cikarang-Jakarta pada pukul 20.48 WIB.

Kondisi itu membuat warga mendekat ke lokasi untuk melihat kejadian di rel. Dalam situasi yang ramai tersebut, KA 5568A sempat diberangkatkan pukul 20.45 dari Stasiun Bekasi, lalu tiba di Stasiun Bekasi Timur pada 20.49 WIB setelah sebelumnya disebut terlambat 8 menit.

Menurut Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi, kereta itu sempat berangkat tetapi kemudian terhenti karena ada kerumunan di depan lokasi kejadian. Dudy menyampaikan kronologi tersebut dalam rapat kerja bersama Komisi V DPR RI dan menegaskan bahwa urutan waktu menjadi bagian penting dalam membaca penyebab kecelakaan.

Urutan waktu yang sedang ditelusuri

Kronologi yang dipaparkan Kementerian Perhubungan menunjukkan bahwa rangkaian kejadian berlangsung dalam tempo singkat. KA Commuter Line 5568A tiba lebih awal 1 menit di Stasiun Bekasi pada pukul 20.34, sedangkan KA 116B Sawunggalih tiba pukul 20.35 atau terlambat 5 menit dari jadwal.

Setelah berhenti untuk menaikkan penumpang, KA Sawunggalih kembali berangkat sekitar pukul 20.37 WIB. Kereta itu kemudian melintas di Stasiun Bekasi Timur pada pukul 20.39 WIB, sebelum situasi berubah akibat peristiwa taksi mogok dan temperan di rel.

Tak lama kemudian, KA Argo Bromo Anggrek melintas di Stasiun Bekasi sekitar pukul 20.51 WIB. Dudy menyebut laju kereta itu mencapai 108 km/jam dan lebih cepat 3 menit dari jadwal.

“Tumburan terjadi pada jam 20.52 WIB,” kata Dudy. Waktu benturan itu kini menjadi salah satu titik penting yang sedang dicocokkan KNKT dengan data lapangan dan temuan teknis lain.

Data awal yang sudah dipegang penyidik

KNKT sebelumnya juga memperoleh data awal yang menunjukkan ada jeda 3 menit 43 detik antara temperan taksi dan kecelakaan KRL-Argo Bromo Anggrek. Lembaga itu juga mencatat bahwa masinis KA Argo Bromo sempat melakukan pengereman dari jarak 1,3 kilometer sebelum tabrakan terjadi.

Keterangan awal tersebut membuat penyelidikan tidak berhenti pada satu momen saja. KNKT harus menyusun ulang hubungan antarperistiwa agar bisa menjelaskan apa yang memicu kecelakaan secara utuh dan akurat.

Karena itu, proses pemeriksaan masih berjalan dan belum ada kesimpulan akhir yang diumumkan. Selama data teknis, hasil pemeriksaan lapangan, dan rekonstruksi waktu belum selesai disatukan, penyebab insiden Bekasi Timur masih terus dicari oleh KNKT.

Source: www.viva.co.id

Baca Juga

Back to top button