Lonjakan Cathlab Bikin Beban Jantung JKN Tembus Rp11,83 Triliun

Di tengah beban pembiayaan kesehatan yang makin berat, layanan jantung justru menjadi salah satu area paling menekan bagi Program Jaminan Kesehatan Nasional. Sepanjang 2025, BPJS Kesehatan mencatat biaya penanganan penyakit jantung sudah mencapai Rp11,83 triliun.

Di balik angka besar itu, ada kebutuhan layanan yang tidak bisa ditunda. Kasus jantung kerap memerlukan tindakan cepat, tepat, dan mudah dijangkau agar keselamatan pasien tetap terjaga.

Cathlab jadi layanan yang ikut melonjak

Salah satu pos biaya yang paling menonjol datang dari kateterisasi jantung atau cathlab. BPJS Kesehatan mencatat pembiayaan layanan ini sepanjang 2025 sudah menembus lebih dari Rp3,5 triliun dengan jumlah kasus lebih dari 138 ribu.

Jumlah itu disebut meningkat dua kali lipat dibandingkan 2021. Kenaikan ini menunjukkan bahwa kebutuhan layanan lanjutan untuk penyakit kardiovaskular terus membesar, sekaligus menuntut dukungan infrastruktur medis yang lebih luas.

Akses jadi persoalan yang tidak bisa diabaikan

Direktur Utama BPJS Kesehatan Prihati Pujowaskito menegaskan bahwa penguatan layanan jantung harus terus didorong agar peserta JKN tidak terhambat akses maupun biaya. Karena itu, perluasan layanan canggih menjadi salah satu fokus agar pasien bisa mendapatkan pelayanan yang lebih dekat, cepat, dan merata.

“Perluasan layanan cathlab merupakan komitmen BPJS Kesehatan dalam menghadirkan kemudahan layanan bagi peserta JKN, sehingga peluang keselamatan peserta juga semakin besar,” ujarnya di Universitas Padjadjaran, Rabu (20/5/2026). Dorongan ini penting karena pada kasus jantung, keterlambatan tindakan dapat berdampak langsung pada keselamatan pasien.

Beban besar untuk program yang cakupannya sangat luas

Tekanan pembiayaan jantung ikut terasa kuat karena skala peserta JKN sangat besar. BPJS Kesehatan mencatat jumlah peserta kini lebih dari 285 juta jiwa atau sekitar 98% penduduk Indonesia.

Dengan cakupan sebesar itu, layanan berbiaya tinggi seperti penyakit jantung otomatis menjadi perhatian utama. Kondisi ini juga menunjukkan bahwa pengendalian penyakit kronis tidak cukup hanya mengandalkan layanan kuratif.

Pencegahan mulai diperkuat

Untuk menahan laju pembiayaan yang terus naik, BPJS Kesehatan mulai memperbesar langkah promotif dan preventif. Salah satu upaya yang dijalankan adalah Program Pengelolaan Penyakit Kronis atau Prolanis Muda yang menyasar kelompok usia produktif.

Prihati menekankan pentingnya pola hidup sehat untuk mencegah risiko penyakit kronis. “Dengan menerapkan pola hidup sehat, risiko penyakit kronis dapat dicegah sehingga masyarakat tetap sehat dan produktif,” kata dia.

Langkah ini dinilai relevan karena penyakit kronis sering berkembang perlahan sebelum memicu gangguan jantung atau stroke. Jika pencegahan berjalan baik, tekanan pada layanan spesialistik dan pembiayaan juga bisa lebih terkendali.

Efisiensi dan tata kelola ikut jadi perhatian

Di sisi lain, BPJS Kesehatan juga menyoroti pentingnya tata kelola yang kuat agar pembiayaan JKN tetap berkelanjutan. Sepanjang 2025, efisiensi dari pencegahan fraud mencapai Rp6,5 triliun atau sekitar 3,4% dari total biaya pelayanan kesehatan.

Wakil Menteri Kesehatan Benyamin Paulus Octavianus menilai penguatan layanan kesehatan tidak hanya bergantung pada teknologi medis. Menurut dia, ketepatan diagnosis dan efektivitas tindakan medis sama pentingnya agar pelayanan benar-benar tepat sasaran.

“Keberhasilan pelayanan kesehatan bukan tentang semakin banyak tindakan medis yang dilakukan, melainkan bagaimana memberikan tindakan yang tepat kepada pasien yang tepat pada waktu yang tepat,” ujarnya. Dengan biaya penyakit jantung yang terus mendominasi pembiayaan JKN, perluasan cathlab, pencegahan penyakit kronis, dan penguatan tata kelola menjadi rangkaian langkah yang saling berkaitan.

Source: lifestyle.bisnis.com

Baca Juga

Back to top button