Di tengah ibadah haji yang padat dan cuaca Makkah serta Madinah yang panas ekstrem, tubuh jemaah bisa cepat kehilangan cairan tanpa disadari. Dua tanda yang paling mudah dipantau justru sederhana: tubuh mulai terasa lemas dan urine berubah menjadi lebih pekat.
Perubahan kecil ini penting karena sering muncul lebih dulu sebelum kondisi memburuk. Dokter spesialis gizi klinik dr A Yasmin Syauki menilai warna urine dapat menjadi petunjuk awal saat tubuh mulai kekurangan cairan.
Saat kondisi tubuh masih normal, urine biasanya tampak kuning jernih. Ketika cairan tubuh berkurang, warnanya dapat berubah menjadi kuning pekat, dan ini menjadi sinyal yang perlu diwaspadai.
Gejala yang sering muncul sebelum kondisi berat
Dehidrasi tidak selalu datang dengan tanda yang langsung terasa berat. Pada banyak jemaah, keluhan awal justru berupa rasa lemas saat berjalan, beribadah, atau berada di ruang terbuka.
Karena itu, jemaah tidak disarankan mengabaikan perubahan kecil pada tubuh. Saat rasa lemas muncul bersama urine yang makin pekat, kondisi ini perlu segera diperhatikan agar tidak berkembang lebih jauh.
Keluhan lain yang ikut perlu dipantau
Selain lemas, dr Pande mengingatkan adanya sejumlah gejala lain yang juga harus diwaspadai. Rasa limbung, nyeri kepala, mual, dan pandangan buram termasuk tanda yang perlu segera ditanggapi dengan menambah asupan cairan.
Dalam cuaca panas, tubuh bisa kehilangan banyak cairan saat terus beraktivitas. Situasi ini sering membuat jemaah tidak sadar bahwa tubuhnya sudah mulai kekurangan cairan meski masih merasa sanggup melanjutkan kegiatan.
Waspada saat panas berubah jadi ancaman
Bahaya tidak berhenti pada dehidrasi. Jemaah haji juga berisiko mengalami heatstroke atau sengatan panas ketika tubuh tidak lagi mampu mengendalikan suhu.
dr Pande menjelaskan, kondisi ini terjadi saat tubuh gagal berkompensasi terhadap panas. Keluhan seperti sesak, pusing, dan lemas berat tidak boleh dianggap remeh saat berada di luar ruangan.
Karena itu, tanda awal seperti urine pekat dan tubuh lemas perlu dibaca sebagai peringatan dini. Penanganan cepat dapat membantu mencegah kondisi berkembang menjadi lebih berat.
Langkah sederhana untuk membantu tubuh tetap nyaman
Untuk mengurangi dampak paparan panas, dr Yasmin menyarankan jemaah memakai pelindung kepala saat berada di luar. Ia juga menyarankan penggunaan kain atau kanebo basah di dalam tenda, terutama saat berada di Mina.
“Basahi kanebo dengan air, sehingga kepala kita suhunya tetap dingin, tidak panas,” ujar dr Yasmin. Cara sederhana seperti ini dapat membantu menjaga kenyamanan tubuh saat suhu sekitar terasa berat.
Di tengah aktivitas ibadah yang padat, kebiasaan memantau warna urine dan memperhatikan rasa lemas bisa menjadi cara paling mudah mengenali dehidrasi sejak awal. Minum cukup dan melindungi diri dari panas menjadi langkah penting agar kondisi tubuh tetap stabil selama haji.
Source: www.beritasatu.com




