Di balik promosi besar-besaran Tesla soal Full Self-Driving, ada gambaran yang jauh lebih hati-hati dari dalam perusahaan sendiri. Sejumlah pekerja aktif dan mantan pekerja yang diwawancarai Reuters menyebut mereka tidak akan menyerahkan perjalanan mereka kepada sistem itu.
Pernyataan itu membuat jarak antara narasi publik dan realitas teknis Tesla terlihat semakin lebar. FSD memang diposisikan sebagai inti masa depan perusahaan, tetapi para insinyur, pelabel data, peneliti, dan pakar keselamatan yang terlibat dalam investigasi Reuters justru melihat banyak celah yang belum benar-benar tertutup.
Pengawasan internal yang menunjukkan banyak masalah
Reuters melaporkan bahwa para pekerja yang membantu melatih FSD rutin meninjau rekaman saat mobil Tesla kesulitan menghadapi bus sekolah, kendaraan darurat, zona konstruksi, pejalan kaki, dan pengaturan kecepatan. Dari situ terlihat bahwa sistem masih sering diuji lewat situasi yang tidak sederhana.
Beberapa mantan pekerja juga mengaku melihat banyak contoh ketika FSD nyaris gagal dan baru selamat karena intervensi manusia di detik terakhir. Gambaran itu memperkuat kesan bahwa Tesla masih sangat bergantung pada pengawasan manusia untuk mencegah insiden yang lebih serius.
Investigasi tersebut juga menyorot kelompok internal yang secara informal disebut “trauma team”. Tim ini disebut fokus pada insiden nyaris tabrak pejalan kaki, termasuk anak-anak, sehingga menunjukkan betapa seriusnya Tesla memantau kegagalan sistem dari dalam.
Selain itu, mantan karyawan mengatakan mereka melihat rekaman FSD yang menabrak hewan, gagal mengenali bahaya di jalan, atau membutuhkan campur tangan manusia pada momen paling krusial. Semua ini mengarah pada satu kesimpulan yang sama: tim internal Tesla sangat sadar bahwa autonomous driving masih jauh dari matang.
Keraguan justru datang dari orang dalam
Salah satu bagian paling mencolok dari investigasi Reuters adalah pengakuan beberapa mantan pekerja yang mengatakan mereka sendiri tidak percaya FSD layak dipakai untuk mengantar mereka. Pernyataan seperti itu memberi bobot baru pada kritik yang selama ini lebih sering datang dari luar Tesla.
Reuters menyebut investigasinya mengumpulkan keterangan dari mantan pelabel data, insinyur self-driving, peneliti, dan pakar keselamatan Tesla. Media itu juga meninjau klaim keselamatan publik Tesla beserta metodologinya, lalu menemukan masalah dalam cara perusahaan membandingkan data kecelakaan.
Para pekerja dan mantan pekerja yang terlibat dalam pelatihan FSD itu tidak hanya melihat data, tetapi juga kasus nyata di lapangan. Dari situ, muncul gambaran bahwa keyakinan internal terhadap sistem tersebut tidak sekuat pesan yang sering dibawa Elon Musk ke publik.
Klaim keselamatan Tesla ikut disorot
Selama bertahun-tahun, Elon Musk dan eksekutif Tesla lain menegaskan bahwa Full Self-Driving jauh lebih aman daripada pengemudi manusia. Namun, Reuters melaporkan bahwa para peneliti luar melihat kelemahan besar dalam perbandingan yang dipakai Tesla untuk mendukung klaim itu.
Salah satu kritik utamanya adalah Tesla membandingkan kecelakaan pada kendaraan yang memakai FSD dengan basis data federal yang memuat insiden yang lebih ringan. Para peneliti juga menyoroti perbandingan antara Tesla yang relatif baru dengan seluruh armada kendaraan di AS yang rata-rata sudah berumur lebih dari satu dekade.
Reuters juga menyebut Tesla hanya menghitung kecelakaan tertentu bila terjadi dalam lima detik setelah FSD dinonaktifkan. Standar pelaporan federal memakai jendela 30 detik, sehingga cara hitung Tesla dinilai bisa membuat gambaran keselamatan tampak lebih menguntungkan daripada perbandingan yang setara.
Ambisi otonom yang masih bergantung pada detail peta
Di sisi lain, investigasi Reuters mengungkap Tesla sangat bergantung pada zona robotaxi yang dipetakan lebih dulu dan persiapan rute yang ekstensif sebelum peluncuran di tempat seperti Austin dan California. Mantan pekerja menjelaskan bahwa tim Tesla menandai jalan, curb, titik penjemputan, rambu, dan situasi lalu lintas yang sulit agar demonstrasi berjalan mulus.
Ketergantungan itu menunjukkan perusahaan masih mengandalkan pemetaan detail dan penanganan skenario yang terbatas. Hal ini menarik karena Musk selama ini kerap mengkritik pesaing seperti Waymo yang bergantung pada area operasi berpeta atau geofence.
Musk pernah menegaskan bahwa jika sebuah sistem butuh wilayah geofence, maka itu bukan self-driving sejati. Namun, laporan Reuters justru menunjukkan Tesla juga sibuk memeriksa kasus-kasus ekstrem, intervensi keselamatan, dan kegagalan sistem secara internal.
Kontras itu membuat jarak antara bahasa promosi Tesla dan kenyataan teknis yang mereka hadapi makin jelas. Yang terlihat bukan cuma kritik terhadap FSD, tetapi juga gambaran tentang perusahaan yang sadar betapa sulitnya membuat mobil benar-benar bisa menyetir sendiri.
Source: www.carscoops.com




