Kredit Baru Baru Dikejar, BI dan Pemerintah Dorong PINISI ke Sektor Riil

Dorongan agar kredit lebih cepat mengalir ke sektor riil kembali ditegaskan lewat peluncuran Percepatan Intermediasi Nasional atau PINISI. Program ini hadir sebagai upaya pemerintah dan Bank Indonesia untuk membuat pembiayaan nasional lebih dekat dengan usaha produktif, terutama yang punya peran besar dalam menjaga pertumbuhan ekonomi.

Di balik program tersebut, ada pesan kuat bahwa kebijakan tidak cukup berhenti di tingkat pusat. Supaya dampaknya terasa, koordinasi lintas lembaga harus berjalan lebih rapat agar hambatan pembiayaan bisa segera diurai dan kredit benar-benar sampai ke dunia usaha.

Sinergi kebijakan jadi titik tekan

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menilai PINISI dibuat untuk memperlancar arus modal sekaligus memperkuat efektivitas kebijakan pemerintah. Ia menekankan bahwa arah kebijakan yang bagus harus tersambung sampai ke perbankan dan pelaku usaha agar manfaatnya tidak terhenti di dokumen atau rapat koordinasi.

Perry juga menyebut program ini mendukung pelaksanaan proyek strategis pemerintah. Menurut dia, penguatan sektor prioritas dan sektor riil menjadi bagian penting dari sinergi yang ingin terus diperbesar melalui PINISI.

Ia mengatakan, “Sekaligus untuk mensukseskan berbagai pelaksanaan program-program proyek-proyek strategis dari Bapak Presiden untuk kita selesaikan, menggerakkan sektor-sektor prioritas dan sektor riil.”

Kredit perlu mengarah ke sektor yang paling menyerap tenaga kerja

Dari sisi pemerintah, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto melihat PINISI sebagai bukti nyata kerja sama antar lembaga. Ia menilai intermediasi kredit perlu diarahkan ke kanal pembiayaan yang paling banyak menyerap tenaga kerja dan menopang ekonomi nasional.

Dalam pandangan Airlangga, UMKM tetap menjadi fokus utama. Sektor ini dipandang sebagai fondasi ekonomi yang tidak boleh luput dari perhatian, terutama di tengah kebutuhan pembiayaan yang besar dan dorongan agar kredit tidak terkonsentrasi pada kelompok usaha tertentu.

Airlangga juga menegaskan bahwa PINISI menjadi bentuk sinergi lintas lembaga untuk memperkuat pertumbuhan ekonomi nasional. Ia menyampaikan, “PINISI sebagai wujud sinergi lintas lembaga untuk memperkuat pertumbuhan ekonomi nasional.”

Capaian kredit program sudah menuju seperempat target

Peluncuran PINISI juga membawa sorotan ke capaian kredit program pemerintah yang sudah terealisasi Rp 78,39 triliun hingga 31 Maret 2026. Angka itu setara 25 persen dari target yang ditetapkan dalam tahun anggaran berjalan.

Capaian tersebut menunjukkan masih ada ruang percepatan yang besar. Karena itu, PINISI diposisikan sebagai jalur untuk membuat pembiayaan bergerak lebih efektif, sehingga dana yang tersedia bisa lebih cepat menjangkau sektor produktif dan mendukung aktivitas ekonomi yang lebih luas.

Hilirisasi dan industrialisasi ikut diperkuat

Perry Warjiyo juga menilai Indonesia sudah memiliki rangka kebijakan yang kuat untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. Ia menekankan bahwa hilirisasi dan industrialisasi perlu terus diperkuat supaya pertumbuhan bisa lebih tinggi dan bertahan lebih lama.

Dalam penjelasannya, Perry mengaitkan kebutuhan itu dengan situasi global yang belum pasti. Ia menilai kebijakan harus makin dekat dengan kebutuhan pelaku ekonomi, termasuk menjaga kepercayaan pasar dan memastikan pembiayaan mengalir ke proyek strategis nasional.

Menurut Perry, “Kita memiliki rangka kebijakan yang kuat dan itulah yang harus kita tingkatkan termasuk juga kebijakan hilirisasi dan industrialisasi untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang tinggi.”

Optimisme usaha ingin kembali terdorong

PINISI tidak hanya diarahkan untuk mempercepat kredit, tetapi juga untuk menggerakkan kembali rasa percaya dunia usaha. Airlangga berharap intermediasi benar-benar mengalir ke sektor produktif agar dampaknya terasa langsung pada pertumbuhan ekonomi.

Ia juga menyampaikan harapan agar optimisme pelaku usaha kembali menguat seiring program ini berjalan. “Saya berharap dengan PINISI optimisme dunia usaha kembali menguat, intermediasi mengalir ke sektor produktif,” ujarnya.

Dengan fokus pada UMKM, sektor prioritas, dan proyek strategis nasional, PINISI ditempatkan sebagai langkah untuk membuat pembiayaan nasional lebih cepat sekaligus lebih tepat sasaran. Program ini menjadi salah satu upaya baru untuk menyatukan kebijakan fiskal, moneter, dan sektor keuangan agar kredit benar-benar bergerak ke sektor riil.

Baca Juga

Back to top button